Cari Blog Ini

Rabu, 22 Juli 2015

Pendidikan Sahabat Difable

      Ditengah kesibukan kegiatan kuliah, aku membuka-buka tulisan yang pernah kubuat dulu. Ini salah satu tulisan yang aku buat pada hari Rabu 11 Juni 2014 yang mampu membuka kembali pikiran-pikiranku mengenai sahabat difable.
    Berawal dari pagi, aku dan teman sekelompok matakuliah Pasikodiagnostik II datang ke SLB Negeri Surakarta untuk melakukan wawancara demi tugas mata kuliah. Mulanya kami mengalami kesulitan untuk menerjemahkan bahasa kami yang sebenarnya relatif mudah namun menjadi sangat sulit sekali untuk di pahami anak tuna rungu. Teman penyandang tuna rungu yang kami wawancarai Diky namanya, dia sangat wellcome, saat itu duduk di bangku kelas 1 SMALB Negeri, namun ia mengalami banyak keterbatasan dalam kosakata. Misal saja untuk kata “syukur”, “interaksi” kami harus mencari padanan yang paling sederhana agar mudah ditangkap oleh dia. Akhirnya kami di bantu oleh pengurus dari Gerkatin (Gerakan Tuna Rungu Indonesia) yang bernama Mas Bias, yah lumayan terbantu lah oleh beliau walaupun masih ada kekurangan dan miss informasi, overall ini cukup bagus. 
      Selesai wawancara kami sedikit bercakap-cakap mengenai kondisi sekolah SLB di Indonesia. Sangat memprihatinkan. Dengan sistem yang mengajarkan mereka bahasa yang terbatas, kosakata yang sedikit, menjadikan mereka hanya sebatas tahu bahasa sederhana. Guru SLB tidak mengajarkan istilah akademik yang umum. Sangat meprihatinkan. Padahal seharusnya anak tuna rungu dengan kemampuan kecerdasan yang normal seperti kebanyakan orang mampu mengimbangi teman-teman yang normal pula. Kalau ditinjau dari segi sistem akademik di SLB masih didominasi oleh orang-orang lulusan Pendidikan Luar Biasa. Mohon maaf saya katakan Orang yang berkecimpung di dunia Pendidikan Luar Biasa tidak terlalu mendalami dan menguasai bidang ilmu yang mereka ajarkan ke anak-anak SLB. Dunia Pendidikan Luar Biasa biasanya lebih banyak mengajarkan para penyandang difable untuk hidup secara mandiri, dengan pendekatan personal, terapi, dll. Namun dari aspek akademiknya sendiri masih minim. Maka tidak heran para penyandang tuna rungu hanya sedikit yang mampu melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Maksimal kebanyakan mereka hanya menyelesaikan pendidikanya hingga tingkat SMA. 
     Ini yang membuat saya prihatin dengan sistem di Indonesia. Berbeda dengan luar negeri, mereka memiliki sistem yang bagus untuk mendidik anak tuna rungu, tidak heran lahir profesor-profesor ahli yang tuna rungu. Seharusnya sudah menjadi gagasan yang dilaksanakan untuk membuat pendidikan perguruan tinggi di berbagai bidang ilmu baik sarjana, magister, doktor terutama di bidang pendidikan untuk menerapkan pengajaran ramah difable termasuk penyandang tuna rungu. Sehingga nantinya tidak hanya orang-orang lulusan Pendidikan Luar Biasa saja yang berkontribusi memberikan pengajaran di dunia Pendidikan Luar Biasa, namun ahli di berbagai bidang ilmu juga turut mengambil bagian untuk memperluas wawasan pengetahuan penyandang difable termasuk penyandang tuna rungu.

Kamis, 01 Mei 2014

Kelebihan Itu Berbeda Dari yang Lain

      Bermula dari keputusanku untuk bergabung dengan teman-temanku dalam program PKM-M yang akhirnya lolos untuk didanai hibah dari Dikti, sungguh ini merupakan anugrah yang sangat luar biasa. Aku tidak pernah berpikir sebelumnya PKM ini akan lolos mendapat hibah, dan pada suatu ketika aku diberi kabar oleh sahabatku Vira bahwa PKM kami lolos. Kabar tersebut aku terima pada bulan januari minggu terakhir. Tak lama kemudian, kami sekelompok sudah dapat melaksanakan kegiatan yang kami usulkan. Butuh proses yang panjang, awalnya kami datang ke salah satu SLB negeri yang berada di kota Surakarta. Meskipun aku mahasiswa psikologi, namun aku masih takut mendekati murid SLB disana. Aku belum mendapatkan apapun dari sana. Di pertemuan kedua, aku bertemu dengan salah satu murid SLB-B disana. SLB-B diperuntukan bagi penyandang tuna rungu. Murid yang aku temui kali ini bernama Bayu. Aku sebenarnya sangat tertarik untuk bercakap-cakap dengan Bayu, namun karena keterbatasanku tidak memahami bahasa isyarat aku akhirnya hanya bisa berbicara melalui tulisan. Hingga akhirnya sahabatku mencoba memperkenalkanku pada Bayu. Tampak wajah bayu sangat senang, begitupun aku. Kemudian aku meminta sahabatku untuk menyampaikan pada Bayu untuk mau mengajariku berbahasa isyarat yang mereka gunakan. Alhamdulillah dia mau mengajariku dengan sabar. Lama-lama aku dapat berinteraksi dan bercakap-cakap dengan mereka. Aku banyak bertanya meengenai apa yang mereka rasakan. Sungguh ini sangat luar biasa.
      Beberapa pertemuan berikutnya aku semakin akrab dengan sahabat-sahabat baruku, tidak hanya Bayu namun juga teman-temanya yang lain dari penyandang tuna rungu juga tuna grahita. Mereka sangat baik, ramah dan wellcome padaku. Mereka seperti membawa angin dari surga. Wajah yang tanpa beban dan penuh keceriaan. Ini suasana yang sangat berbeda ketika di kampus. Ya paling tidak ini bisa menghiburku. Jika lama tidak bertemu mereka, seperti ada dorongan kuat untuk kembali menyapa mereka dan berada ditengah-tengah mereka. Jujur aku tidak pernah memandang mereka sebelah mata yang mungkin kebanyakan orang akan meremehkanya. Bagiku mereka adalah anugrah Tuhan yang dikirimkan ditengah-tengah kami. Mereka adalah orang-orang yang hebat, dengan segala apa yang mereka miliki meraka masih dapat bersekolah seperti orang-orang kebanyakan dan menjalani hidup dengan normal. Aku tidak bisa membayangkan jika aku yang berada dalam posisi mereka. Mungkin aku akan jatuh dan terpuruk. Bertemu dengan mereka membuatku selalu bersyukur. aku banyak belajar dari mereka. Mereka memberiku banyak ilmu kehidupan, bahwa hidup ini harus tetap berjalan dan dijalani dengan semangat dan kebahagian bagaimanapun dan apapun yang terjadi. Mungkin setiap orang bisa mengalami keterpurukan, jatuh, namun orang yang hebat adalah orang yang mampu bangkit kembali untuk menjalani hidup ini dengan bahagia. Dan jangan pernah sombong dengan apa yang kita miliki saat ini apapun entah itu fisik, maupun materi, kecerdasan, karena ini semua adalah titipan, yang bisa kapan saja hilang. Pernahkah kita membayangkan jika tiba-tiba kita sakit kemudian kita tidak bisa mendengar apapun, atau sulit untuk berpikir, bergerak, atau tidak bisa melihat dan semua itu hanya terjadi dalam hitungan detik.
      Mereka orang-orang luar biasa yang mampu memberiku semangat disaat aku sedih, terpuruk. Hidup ini tak terlalu buruk. Bahagia itu pilihan bukan. Mereka sungguh guru kehidupanku yang sangat luar biasa. Karena mereka berbeda dari yang lain.