Ditengah kesibukan kegiatan kuliah, aku membuka-buka tulisan yang pernah kubuat dulu. Ini salah satu tulisan yang aku buat pada hari Rabu 11 Juni 2014 yang mampu membuka kembali pikiran-pikiranku mengenai sahabat difable.
Berawal dari pagi, aku dan teman sekelompok matakuliah Pasikodiagnostik II datang ke SLB Negeri Surakarta untuk melakukan wawancara demi tugas mata kuliah. Mulanya kami
mengalami kesulitan untuk menerjemahkan bahasa kami yang sebenarnya relatif
mudah namun menjadi sangat sulit sekali untuk di pahami anak tuna rungu. Teman penyandang tuna rungu yang kami wawancarai Diky
namanya, dia sangat wellcome, saat itu duduk di bangku kelas 1 SMALB Negeri, namun ia
mengalami banyak keterbatasan dalam kosakata. Misal saja untuk kata “syukur”,
“interaksi” kami harus mencari padanan yang paling sederhana agar mudah ditangkap
oleh dia. Akhirnya kami di bantu oleh pengurus dari Gerkatin (Gerakan Tuna Rungu Indonesia) yang bernama Mas Bias, yah
lumayan terbantu lah oleh beliau walaupun masih ada kekurangan dan miss
informasi, overall ini cukup bagus.
Selesai wawancara kami sedikit
bercakap-cakap mengenai kondisi sekolah SLB di Indonesia. Sangat
memprihatinkan. Dengan sistem yang mengajarkan mereka bahasa yang terbatas,
kosakata yang sedikit, menjadikan mereka hanya sebatas tahu bahasa sederhana.
Guru SLB tidak mengajarkan istilah akademik yang umum. Sangat meprihatinkan.
Padahal seharusnya anak tuna rungu dengan kemampuan kecerdasan yang normal
seperti kebanyakan orang mampu mengimbangi teman-teman yang normal pula. Kalau
ditinjau dari segi sistem akademik di SLB masih didominasi oleh
orang-orang lulusan Pendidikan Luar Biasa. Mohon maaf saya katakan Orang yang berkecimpung di dunia Pendidikan Luar Biasa tidak terlalu mendalami
dan menguasai bidang ilmu yang mereka ajarkan ke anak-anak SLB. Dunia Pendidikan Luar Biasa biasanya lebih banyak mengajarkan para penyandang difable untuk hidup secara mandiri, dengan pendekatan
personal, terapi, dll. Namun dari aspek akademiknya sendiri masih minim. Maka
tidak heran para penyandang tuna rungu hanya sedikit yang mampu melanjutkan pendidikan hingga ke
perguruan tinggi. Maksimal kebanyakan mereka hanya menyelesaikan pendidikanya
hingga tingkat SMA.
Ini yang membuat saya prihatin dengan sistem di Indonesia.
Berbeda dengan luar negeri, mereka memiliki sistem yang bagus untuk mendidik
anak tuna rungu, tidak heran lahir profesor-profesor ahli yang tuna
rungu. Seharusnya sudah menjadi gagasan yang dilaksanakan untuk membuat
pendidikan perguruan tinggi di berbagai bidang ilmu baik sarjana, magister,
doktor terutama di bidang pendidikan untuk menerapkan pengajaran ramah difable termasuk penyandang tuna
rungu. Sehingga nantinya tidak hanya orang-orang lulusan Pendidikan Luar Biasa saja yang berkontribusi memberikan pengajaran di dunia Pendidikan Luar Biasa, namun ahli di berbagai bidang ilmu juga turut mengambil bagian untuk
memperluas wawasan pengetahuan penyandang difable termasuk penyandang tuna rungu.